Selasa, 07 Juni 2011

Mama kenapa ko tidak mati saja..!!

Ibu ku hanya punya satu mata, dan satu kaki.  Ini sangat memalukan ku. Aku ingin dia mati atau lenyap dari muka bumi. 

Ibu bekerja keras sebagai  pembantu di tentangga, dan berjualan kue untuk membiayai sekolah ku dan kebutuhan  keluarga.

Satu sat, ia berjualan di sekolah ku, dan aku berlari meninggalkan nya, karena rasa malu.  “ kenapa ibu tidak mati saja” kata ku tanpa rasa  menyesal, sepulang sekolah pada nya. Ia hanya diam

Kata-kata itu,  membuat  hati nya hancur dan tertusuk. Sering ia menangis di dapur, tanpa suara di saat aku sedang tidur.  Aku tahu, kesedihan nya, namun aku begitu membenci karena cacat fisik nya.

Kami hidup dalam sebuah gubuk tua, dan sangat menderita. Aku berjanji unstuck sekolah dan harus menjadi orang sukses.  Ibu k uterus membiayai sekolah ku, meski dalam kondisi cacat.

Bertahu-tahun kemudian, aku  tamat kuliah, dan mendapat pekerjaan. Berkeluarga. Membeli rumah mewah dan punya anak.

Ibu, ku datang. Membuat anak-anak ku, takut karena cacat  dan kondisi yang karu-karuan.  Aku mengusir nya dan mencaci nya, pergi dari halaman rumah ku,

Sungguh memalukan, ibu ku memiliki hanya satu mata dan satu kaki .  aku membencinya. Ibu bekerja di tetangga sebagai juru masak. Dan berjualan kue untuk membiayai keluarga dan sekolah ku.

Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Ibuku terdiam hanya memandang.

”Ibumu hanya punya satu kaki dan satu mata. ?!?!” Iieeeeee, jerit seorang temanku.. Ujarku pada ibu, “Bu, Mengapa Ibu tidak punya satu kaki dan satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!”

Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku
sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya.
Ia memandangku sejenak, kemudian berlalu dengan kaki pincang.

Akibat perkataanku tadi, hatinya tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu kaki dan matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Aku belajar dengan tekun, ibuku terus bekerja membelikanku baju, buku sekolah, membayar uang sekolah. Akhirnya aku lulus dan mendapat beasiswa masuk perguruan tinggi. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Jakarta menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah, membeli rumah, kemudian  memiliki anak.

Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.

Kebahagian ini terus bertambah, ketika ibu datang ke rumahku.  Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. terlihat kepanasan di wajahnya, berkeringat dan terengah-engah dengan kaki dan mata satunya.

Siang itu, seakan langit runtuh menimpaku.  Anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat bentuk ibuku yang gak karu-karuan. Kataku, “Siapa kamu?!  Aku tak kenal dirimu!!” ”Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” ”KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!” Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu dengan tongkat kakinya. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Jakarta. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja.
Di sana, kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin.
Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.

”Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang. Aku tidak akan ke Jakarta lagi.  Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sekali ?  Aku sangat merindukanmu. Aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan keadaan cacat fisiku.

Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan ibu mengalami kecelakaan , ketika ibu masih hamil seseorang telah dengan sengaja menabrak kaki ibu hingga patah. Tetapi untung kandungan ibu selamat, akhirnya ibu melahirkan bayi lucu yaitu kamu, tetapi sayang  Tuhan hanya memberikan mu satu mata .Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan mata satu.

Maka aku berikan mata satuku kepadamu,. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, ditempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”

Akupun  menangis sekeras-kerasnya, memeluk ibuku erat-erat meminta maaf,  namun sayang ternyata Ibuku sudah beberapa jam lalu meninggal dalam kesendiriannya.
Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!

Kontraktor edan (gila), jangan dibiarkan

Bukan sirkus bukan sulap, tapi NYATA..!  Ini adalah cara kerja kontraktor edan alias gila  yang  seharusnya  ditindak tegas oleh aparat atau pemerintah. Karena tak layak mendapat proyek Perbaikan atau perawatan   lampu-lampu jalan di Kota Timika, sangat membahayakan nyawa pekerja, bahkan pengguna jalan raya lainnya.

Lihat saja  scafholding setinggi tiang listrik  kurang lebih 12 meter, dipasang di tas bak sebuah truk yang sedang  bergerak, sementara pekerjanya tetap berada di puncak menara.

Pemandangan ini bukan hal yang baru  di Timika. Sejak dua, tiga atau empat tahun lalu hingga siang tadi, Selasa 7 Juni jam 11.30  tepatnya di jalan Cendrawasih  depan  Hotel Kanguru Lama, cara kerjanya tidak pernah berubah, SANGAT berbahaya terutama bagi  jiwa pekerja.

Truknya yang sedang bergerak. Jarak antara  tiang  ke tiang  sekitar 30m - 50 meter. 
pemadangan tadi siang ini menyebabkan   lalu lintas macet,antrean cukup panjang meno....  

Minggu, 05 Juni 2011

PAR Via Dolorosa.Minggu 5 Juni


 sya..la...la, haleluya, kami anak sekolah minggu
tempat kami di sisi mu, bukan dibelakang atau dimana-mana
kami adalah harapan gereja, jangan lupa itu 
wahai ibu/bapak ...Yesus minta kami dibimbing...pegang tangan kami erat
bawa kami pada Nya

Pujian anak-anak  sekolah minggu di  Jemaat Via Dolorosa Sempan Timika, yang akan dibawakan oleh VG  Sekolah dalam Ibadah Jemaat jam sembilan nanti.
Minggu pagi, 5 Juni.  Langit tidak secerah  hari kemarin. Awan menggumpal di atas kota, gerimis pun mulai turun. waktu menunjukkan pukl 7. lewat sedikit.

Memasuki halaman gereja,  seorang pemuda, membungkuk tersenyum menyalami satu persatu anak yang datang pagi itu.
Dalam bagunan utama tiga orang pengasuh sedang memimpin pujian,  didepan  seratusan anak tanggung.   tepuk  tangan  malas-malas sambil nyanyikan pujian 
sya..la,la..la..pegang pundak teman di sebelah mu,
sya la..la..la pegang tangan teman mu .... haleluyah..
Nampak anak-anak kurang bersemangat,  kak Glori pun berusaha dengan gayanya, mendekat melalui jalur paling kanan yang adalah deretan anak laki . Ada yang  asyik colek-colek temannya, ada yang duduk sambil memperhatikan  gerakan ka Glory, namun tak juga nyanyi. anak yang agak besar serta merta memaksakan suaranya yang tak beraturan, bertepuk tangan sejadi-jadinya, eperti sedang berlomba siapa yang paling kuat bertepuk tangan.
Pada bagunan TK di samping kiri, memiliki enam ruang kelas seukuran kira-kira 3 meteran kali 10 meter. Ruangan paling belakang digunakan remaja,  sekitar 50  remaja duduk berkelompok pria dan wanita berhadapan  menyisahkan ruang 3 meter kali lebar  ruangan.   Kak Okta sedang berdiri menyandar pada dinding kayu penyekat ruangan. Matanya tak lepas pada ayat-ayat dalam Kitab suci di depannya smengikuti  yang dibacakan  remaja. 
Ruangan paling depan, nampak beberapa pria sedang bercakap-cakap, ada juga yang senyum-senyum sendiri memperhatikan putra-putrinya yang sedang bernyanyi  dengan gerakan yang dipandu ka Tina.

Dalam kelas anak kecil ini  acara berlangsung tenang, meski anak-anak  agak bosan karena kelamaan duduk, namun penuh sukacita. Karena  keterlibata anak-anak dalam lagu dan gerak. ibu-ibu pun duduk  dilantai mengawasi putra-putrinya  yang lucu-lucu.  Terlintas dalam pikiran ku, pasti  Bapa di surga sangat senang melihat anak-anak ini.  
Karpet warna-warni  cerah bergambar tokoh yang di sukai anak-anak, menjadi arena yang nyaman bagi pengasuh dan anak  juga orang tua dalam hadirat Tuhan di pagi itu.


Kembali ke  dalam gereja, anak-anak tanggung di bagi menjadi enam kelas sesuai jumlah.  Kelompok yang jumlahnya banyak didampingi dua pengasuh.   
Ka Shanti, Cici, dan beberapa diantaranya adalah almuni remaja yang telah dikaderkan menjadi pengasuh. Saat ini mereka sedang  kuliah, aku lupa sih apa nama tempat kuliah  kakak-kakak ini namun yang jelas mereka  akan menjadi guru. ohh ia tempat kuliah nya di SP lima namanya KPG, entah apa kepanjangan dari huruf  K di awal, kalau  P pasti dari    Kata pendidikan sedangkan G adalah awalan dari Guru..

sesudah Acara sekolah minggu semua pengasuh kumpul dalam salah satu ruangan kelas TK,  untuk evaluasi dan mengatur pelayanan nanti sore dan minggu depan


 Ka Glory  bersama anak tanggung kelas 4-5


 Ka Shanti bersama anak kelas 3

Rabu, 01 Juni 2011

Peresmian Gedung Gereja Diaspora Timika

 

23 Maret 2010.
Bupati Kab Mimika Klemen Tinal sedang disambut  dengan tarian adat. 
oleh PAR GKI Diapora

Senin, 30 Mei 2011

MENAKAR DAN MENGUKUR

dari renungan harian
ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu ...
(Lukas 6:38)
Seorang tua sedang merenung. "Dulu saya lahir dari keluarga miskin. Ketika melihat orang kaya, saya bertanya-tanya mengapa mereka egois, tidak mau menolong orang miskin memperbaiki masa depan, bahkan tak jarang malah memandang rendah? Namun, ketika kemudian saya menjadi kaya setelah bekerja keras, saya merasa orang miskin itu malas, tak mau berinisiatif, maunya ditolong, iri, dan tak pernah berterima kasih?" Pak tua itu menggeleng-geleng menyadari kontradiksi di hati dan perasaannya. Mengapa begini?

Tak jarang dalam hidup ini, kita memiliki standar ganda dalam "menakar dan mengukur". Kita kerap menilai orang lain dari "takaran" atau pandangan subjektif kita, dan tak mampu memahami orang lain dari sudut pandang orang itu. Kita kerap menuntut orang lain bersikap dan berbuat seperti yang kita mau, padahal kita sendiri belum tentu melakukan yang sebaliknya. Ketika berbuat salah, kita tak ingin dihakimi. Sebaliknya, ingin dimaafkan dan dibantu keluar dari kesalahan. Ketika membeli, kita menginginkan barang yang berkualitas dengan harga bagus, dan akan sangat marah jika dibohongi. Ketika susah, kita ingin orang lain menolong.

Apabila kita rindu tidak dihakimi, biarlah kita jangan menghakimi. Apabila kita rindu dimaafkan ketika bersalah, biarlah kita jangan menghukum, tetapi mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Perhatikan ayat 38 "berilah": pengampunan, maaf, kesabaran, kebaikan, pengertian, dukungan, kekuatan, kesempatan, pertolongan. "... dan kamu akan diberi, " demikian sabda Kristus. Mau bukti? Coba terapkan janji Tuhan ini –SST

JALANI HIDUP SEBAGAIMANA KITA HARAP ORANG LAIN JALANI
MAKA ITU PULALAH YANG AKAN KITA DAPATI

Mempertahankan Identitas

dari renungan harian
Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.” Mazmur 101:2

Dewasa ini Kejahatan begitu merajalela,percabulan, korupsi kecil hingga besar, penipuan pajak dan lainnya.  maraknya selebritis yang tertangkap karena menggunakan narkoba. Uang dan popularitas telah membius mereka. Mengapa mereka menggunakan narkoba?
mereka sebenarnya ingin lari dari permasalahan hidup. Mereka sudah kehilangan identitas diri!
Sebagai orang percaya yang telah ditebus dan diselamatkan, haruskah kita turut tenggelam dalam kehidupan dunia yang menyesatkan ini?
Ketika norma-norma masyarakat mulai memudar, haruskah identitas kita sebagai umat pilihan Tuhan turut juga memudar dan mulai berkompromi dengan dosa seperti mereka? Justru di tengah-tengah dunia yang gelap ini “...hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). 

Kita harus bisa mempertahankan identitas kita ini dan tetap menjaga diri supaya  hidup kita membawa pengaruh yang positif bagi orang lain. Mungkinkah? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Daniel, meski hidup di negeri asing yang penuh dengan kesenangan dan penyembahan berhala, tetap bertekad menjaga identitasnya sebagai orang percaya agar dirinya tetap murni, dan menolak untuk mencemarkan diri dengan hidangan raja. Tertulis: “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” (Daniel 1:8). Daniel berani hidup berbeda dari orang lain dan mampu mempertahankan identitas rohaninya. Meski berada di tengah-tengah orang-orang dunia dia tidak turut hidup dengan cara-cara duniawi.

Contoh lain adalah Yusuf, yang ketika hidup di Mesir tidak kehilangan identitasnya sebagai orang benar, tetap kuat menghadapi godaan isteri Potifar dan lebih memilih lari daripada harus berkompromi dengan dosa. Pemazmur pun berjuang agar hidupnya tetap berkenan kepada Tuhan. ”Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku. Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu.” (Mazmur 101:3-4). Ingatlah identitas kita!

Minggu, 29 Mei 2011

Siap Menjadi Laskar Kristus..!

Remaja sedang membaca  Kitab Mazmur 1

Yess.... !..Yes..Yes..!! " ..serentak teriakan   empat ratusan remaja menyambut,  Kalimat " Laskar .. Kristus....!": yang belum habis terlontar dari bibir  kak Saramuke..
Siang itu dalam ibadah gabungan Pengasuh dan  remaja se klasis Mimika  di Gereja Cornelius yang terletak  pinggir jalan Mapuru Jaya dalam Kompleks Brigif 20/IJK sekitar 14, km dari  kota Timika. 

Bangunan  gereja warna krem itu tak jauh, dari  pos jaga, dimana  seorang petugas  berseragam loreng lengkap memegang senjata  menyilang di dada, berdiri tegak memasang wajah sangar bagai patung dalam pos monyet  di pinggir jalan masuk kompleks Angkatan Darat ini.

Entah kesan apa yang  terlintas dalam  kepala tiap tamu sipil yang melintas di depannya.   Di jalan umum terpasang  rambu, daerah Militer, kurangi kecepatan  25 Km. 
Namun saya percaya apa yang nampak dari wajah prajurit  yang siap dengan senjata di tangan belum tentu sesangar hatinya.  Karena prajurit juga manusia, ia hanya mengemban  tugasnya. 

Menara gereja menjulang  setinggi 20 - 30 meter kira-kira.  Dalam ruangan di bawahnya nampak sesak para remaja  dan pengasuh.  Beberapa pengasuh sedang sibuk mengarahkan para  remaja yang baru saja turun dari bus ke deretan bangku -bangku yang kosong dalam bangunan gereja seluas kira-kira 30 meter kali  16 meter persegi ini.    Lantainya dipasang keramik   kuning  seukuran tiga puluh cm, motif bantik sangat elegan berpaduan dengan warna lampu dan sinar surya yang menyusup  melalui kaca besar yang terpasang tepat di atas mimbar utama

Sebagian remaja yang terlambat terpaksa harus berdiri  karena tak ada tempat  duduk kosong lagi . Ada pula yang diarahkan duduk  di lantai pada tangga altar berhadapan dengan jemaat.
Bangku -  bangku panjang  yang tadinya berada di atas altar sudah pindah ke  lantai yang paling rendah  berhadapan ke dinding sebelah kiri dan kanan gereja. sudah penuh.  Beberapa  pengasuh  yang sibuk mengabadikan moment itu nampak mencari   objek yang tepat.

Sementara puji-pujian terus dinyanyikan.  Diselingi riuhnya tepuk tangan setelah kelompok choir berhenti dan  kembali menyatu dalam barisan tempat duduk.

Kalimat kalimat penyemangat dan terimakasih dari Song Leader. terus digemahkan...pemain keybord  duduk disebelah kiri depan   ruangan tepat di belakang mimbar coklat yang dipasang dengan renda kain merah  putih. Wow...!!! Benar-benar  hari  minggu yang diberkati,  berkelimpahan sukacita

"Semangat yang luar biasa, semuanya karena kebaikan Tuhan" ...  "Remaja dan pengasuh harus tegar dan sukacita...!  Musuh kita adalah Iblis, sebagai laskar Kristus tidak boleh ...  low ...yo..!! ( loyo...).."  seruan John Saramuke, penuh antusias tegap, semangat dan  tersenyum...dengan lesung pipi nya..
 
Laskar Kristus,....!!! ... Yes..yes... ..!  Yesus ...Yess..yes..! ...
Iblis......!!...kasian de  loe...iblis ...!  itulah   yel..yel  yang diserukan secara berbalas-balasan...suara ratusan anak membumbung tak dapat dibedakan, gemuruhnya  memancar   melalui rgelombang udara lembab mendung... karena  hujan baru saja meredah menyisahkan rerumputan yang basah, di minggu 29 Mei.
Sukacita  selalu merasuki jiwa tiap pertemuan Ibadah., tak dapat dipisahkan. Mampu mengembalikan semangat para pengasuh  yang kecapean karena sepanjang hari  melanyani, Ibadagh sekolah Minggu, Tunas dan menggembalakan domba-domba kecilnya  masuk dalam pelataran Ibadah sore itu.

Pembacaan Alkitab terdapat dalam Injil Lukas 4 : 1-13, tentang Pencobaan di  Padang Gurun.
Tuhan Yesus memberikan kita petunjuk bagaimana mengalahkan  strategy Iblis, yang selalu mengamati  kapan kita menjadi loyo dan membuat kita jatuh atau terperangkap dalam dosa.
Ada lima  hal, kita akan pelajari dari bacaan ini  yaitu; Bagaimana  iblis menjerat kita jatuh dalam dosa, antara lain ;
Pertama : Iblis menggunakan kemuliaan (menawarkan  kekayaan,   kehormatan, terkenal, beken dan sebagainya) agar kita mau melakukan apa yang ia inginkan.   dalam hidup kita,  sering  kali  datang banyak tawaran seperti itu.
Kedua : Iblis tidak mau kita  bersekutu dengan Tuhan. Iblis suka jika kita sendiri, agar dia bebas mempengaruhi kita.  Sebab itu, anak Tuhan tidak boleh meninggalkan persekutuan, Ibadah, sekolah minggu, baca dan merenungkan  Firman Tuhan. karena demikian  kita mempersekutukan diri  dengan Tuhan. Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita
Ke tiga : ketika kita kecapaen,iblis suka goda kita.
Ke empat : disaat kita sedang mendegar Firman Tuhan atau berada dalam Rumah Tuhan.
banyak anak  Tuhan tidak kosentrasi  saat beribadah atau  berdoa. Itulah sebabnya  ada yang suka ribut,  berceritera dengan teman dan ganggu teman dalam ibadah.
Kelima :  Di saat kita sedang atau memulai suatu  hal yang baik, misalnya pelayanan. Iblis mencarai strategy untuk menghancurkan pelayanan kita. Misalnya, merasa paling berjasa atau paling penting dalam keberhasilan sebuah pelayanan. kita tidak menyadari  rancangan iblis, kita menjadi sombong dan  tidak menghargai kawan sepelayanan.
Kalau pencobaan adalah senjata iblis menyerang kita, maka kita punya senjata yang paling ampuh  untuk melawan dia, yaitu :
Kita memiliki Kuasa atau otoritas dari Allah karena kita adalah anak-anak Nya. Tuhan Yesus akan memberikan Kasih Nya bagi kita,  untuk menghadapi cara-cara iblis. misalnya, membenci, marah-masih, mencuri dan sebagainya. kita juga akan dibimbing oleh Roh Kudus.
dengan senjata itu kita mampu melawan si iblis.   itulah inti pemberitaan yang disampaikan oleh John  dalam ibadah tersebut.
Ibadah  diselingi dengan puji-pujian dari  Par Syallom Amungsa;  Par  Marantha SPIII, Par Pniel Jalan Baru; dan  solo dari Par Ottow Geissler 32.  ibadah berakhir dengan pujian  Bapa terimakasih, dan salam-salaman.

_________________________________________________________
Apa kabar...kita bergembira.. tepuk tangan kedip kan mata mu.... Sukacita yang  dirasakan, entah bagaimana  saya  harus gambarkan dengan kata-kata..  ya sama seperti warna-warni baju yang dipakai  tiap orang yang hadir siang itu.  Ada senyum yang lebar menandakan ketulusan hati saat kita saling bertemu. Ya rasanya seperti  pertemuan di sorga kelak. dimana setiap pelayan mengisahkan apa yang dialami, dikerjakan dan bagaimana   ia  menjadi pemenang dalam  perlombaan itu...wow... saya percaya ketika melihat  itu, Tuhan  bersama malaikatNya pasti bersukacita...

Sbab Kau besar, perbuatan Nya ajaib.. tiada seperti Engkau...Sbab  Kau besar....!! demikian alunan suara manis yang merupakan talenta  pemberian Nya, Vocal Grup dari Jemaat  Marantha  memuliakan Tuhan Yesus. Ia besar banyak perbuatan Nya yang ajaib... ajaib... karena KASIH, Kemurahan dan Kebaikan Nya... sungguh Tuhan Yesus Dahsyat, ajaib dalam hidup kita...


Seperti rusa rindu sungai Mu, jiwa ku rindu Engkau. Kau lah Tuhan hasrat  hati ku, Jiwa ku rindu  Engkau... demikian sepotong syair yang dibawakan VG Par Syallom Amungsa. 

  

Anak Tuhan dituntut mempertanggungjawabkan apa yang kita ucapkan, lakukan dan pikirkan.  Jika kita, sudah tahu bagaimana cara iblis menyerang kita, memperdayakan kita, agar kita  jauh dari Tuhan.  
Iblis paling suka menggoda kita, senjata nya adalah pencobaan. 
Mari Laskar Kristus bangkit, tegakkan  kebenaran dengan Kuasa Allah, berjalanlah dengan tekun dalam  Kasih Tuhan  Yesus. Mintalah tuntutan Roh kudus.  Maka itu akan menjadi senjata yang ampuh   mengalahkan iblis...
AWAS IBLIS MUSUH KITA.. !!! 

Pnt. John Saramuke,



 Duet dari PAR Syallom Amungsa...




Solo dari PAR Pniel Jalan Baru







Solo dari PAR Ottow Geissler MP 32

Opa Kemis,  adalah sesepuh sekaligus pelopor sekolah Minggu GKI di tanah Amungsa.  Selalu setia memberikan dukungan, motivasi dan semangat bagi kaum muda.(barisan pengasuh)  dalam pelayanan.
Meski usianya sudah senja, semangat nya untuk pekerjaan Tuhan tak pernah  pudar. Kak Kemis, (baju Biru)  bagai  Musa yang di utus Tuhan membimbing kami gembala-gembala kecil di Tanah Amungsa. Kiranya Tuhan Sang Gembala Agung senantiasa memberkati Opa Kemis